Setiap kali mendekati tanggal 17 Agustus, suasana kemerdekaan Indonesia pasti terasa banget. Di mana-mana, kita bakal sering lihat dan ikutan pawai yang meriah di sekitar tempat tinggal kita. Pawai atau parade selalu bikin suasana jadi ceria, dengan sekelompok orang jalan bareng sambil menampilkan berbagai atraksi seru. Para penonton bisa menikmati kostum-kostum unik, musik pengiring yang bikin semangat, dan spanduk-spanduk berwarna-warni yang dibawa dengan penuh antusias. Nggak heran kalau pawai selalu jadi tradisi yang dinanti-nanti. Selain buat merayakan, pawai juga jadi ajang mengekspresikan kreativitas dan ngerasain kebersamaan yang hangat.
Tradisi Pawai : Di Seputaran Dunia dan di Seputaran Kampus
- kategori Kegiatan Lain
943 Views
berita terkait
- SENI RUPA MURNI MENGUCAPKAN... MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN!!!
- Orasi Ilmiah LYCEUM oleh Prof. Djuli Djatiprambudi: Menggagas Arah Baru Seni Rupa Kontemporer
- LYCEUM - Orasi Ilmiah oleh Profesor Seni Rupa Pertama dari UNESA
- Dari Kanvas ke Panggung: Band Indonesia yang Lahir dari Mahasiswa Seni Rupa
- Tradisi Pawai : Di Seputaran Dunia dan di Seputaran Kampus
Ngomongin soal pawai, ternyata ini punya sejarah yang panjang dan bervariasi di seluruh dunia. Di Eropa, misalnya, pawai sering dikaitkan dengan perayaan keagamaan, kemenangan militer, atau acara-acara besar lainnya. Sejak zaman abad pertengahan, pawai udah jadi tradisi untuk merayakan momen-momen penting, seperti pernikahan raja atau kemenangan dalam perang.
Di Asia, pawai juga memiliki akar sejarah yang kuat. Di Jepang, festival tradisional seperti Gion Matsuri di Kyoto melibatkan pawai dengan kereta hias dan pertunjukan yang telah berlangsung selama berabad-abad. Seiring berjalannya waktu, pawai telah berkembang menjadi acara yang merayakan berbagai aspek kehidupan, dari budaya lokal hingga perayaan umum, yang sering melibatkan komunitas dalam ekspresi kreatif dan semangat kebersamaan. Bisa kita lihat juga di Bali ada pawai Ogoh-Ogoh yang begitu meriah, Pawai Grebeg di Yogjakarta, Pawai Tabuik di Pariaman Sumatera Barat, dan masih banyak lagi.
Lukisan Pawai Gajah Perang di Angkor Wat.

Parade Gion Matsuri di Jepang.
Nah, kalau di kampus UNESA, pawai juga nggak kalah serunya, terutama dalam acara Asmaraloka. Buat yang belum tahu, Asmaraloka adalah acara Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) yang diadain di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Acara ini bukan cuma sekadar orientasi biasa, tapi penuh dengan kegiatan seru, dan salah satu yang paling ditunggu-tunggu adalah pawai! Nampaknya tahun ini sedikit banyak para mahasiswa terinspirasi dari pawai Ogoh-Ogoh yang ada di Bali. Simak keseruan pawai mahasiswa baru Universitas Negeri Surabaya, khususnya prodi Seni Rupa Murni.
![]()
Patung yang diarak layaknya Ogoh-Ogoh di Bali.
Keseruan pawai Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya bertajuk Asmaraloka.
Di Asmaraloka, pawai bukan sekadar jalan-jalan biasa. Ini adalah momen di mana mahasiswa baru bisa bener-bener merasakan suasana kampus yang penuh warna. Jumat pagi kemarin, 23 Agustus 2024, mereka bareng kakak-kakak panitia jalan dengan semangat mengikuti pawai, sambil teriak-teriak yel-yel dan nyanyi lagu kebanggaan masing-masing. Mereka juga pakai kostum-kostum keren yang mencerminkan semangat Fakultas Bahasa dan Seni. Kostum-kostum ini disesuaikan dengan tema prodi masing-masing, yang pastinya nggak lepas dari unsur seni, budaya, dan bahasa yang jadi ciri khas fakultas.
Pawai Asmaraloka juga jadi momen seru buat memperkenalkan diri ke seluruh komunitas kampus. Pawai ini lebih dari sekadar jalan bareng; ini adalah kesempatan buat bangun koneksi, nunjukin karakter kelompok masing-masing, dan pastinya makin ngeratain kebersamaan di antara semua orang. Buat mahasiswa baru, pawai ini sering kali jadi momen yang paling berkesan.