Mahasiswa Seni Rupa UNESA Mendalami Jejak Maestro Bali dan Dunia di Museum ARMA
Ubud, Bali — 26 November 2025.
Masih dalam rangkaian kegiatan Tinjauan Seni Rupa di Pulau Dewata, mahasiswa Program Studi Seni Rupa Murni dan Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya melanjutkan kunjungan akademik ke Agung Rai Museum of Art (ARMA). Kunjungan ini dilaksanakan pada hari yang sama, 26 November 2025, setelah eksplorasi budaya di Museum Topeng dan Wayang Setia Darma.
Mahasiswa Seni Rupa sampai di Museum ARMA. Foto oleh Fathoni
Museum ARMA merupakan salah satu museum seni rupa terpenting di Bali yang didirikan oleh Agung Rai pada tahun 1996. Museum ini hadir dengan visi pelestarian, pengembangan, dan pendidikan seni rupa Bali serta seni Indonesia secara luas. Tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer, ARMA dirancang sebagai kompleks budaya terpadu yang mencakup museum, galeri, taman, panggung pertunjukan, studio seniman, perpustakaan, serta ruang-ruang edukasi.
Sesampainya di sana, mahasiswa mendapat pendampingan dari guide yang sekaligus mengenalkan koleksi museum ARMA. Foto Oleh Devalino
Memasuki kawasan ARMA, mahasiswa langsung disambut oleh tata ruang museum yang luas dan tertata artistik. Berbagai bangunan bergaya arsitektur Bali berdiri megah di tengah lanskap taman yang asri, menciptakan suasana kontemplatif yang memperkuat pengalaman apresiasi seni. Lingkungan ini memperlihatkan bagaimana seni, alam, dan kehidupan sehari-hari di Bali saling menyatu secara harmonis.
Koleksi karya seni tradisional Bali di salah satu ruang pamer Museum Neka. Foto oleh Arin
Di dalam ruang pamer, mahasiswa mengamati secara langsung berbagai karya maestro seni rupa Bali, Indonesia, dan seniman internasional yang memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan seni di Bali. Koleksi ARMA mencakup karya-karya klasik seni lukis Bali gaya tradisi hingga modern, serta lukisan dan karya grafis seniman asing yang pernah menetap dan berkarya di Bali. Di antaranya adalah karya I Gusti Nyoman Lempad, Anak Agung Gde Sobrat, Ida Bagus Made, serta karya seniman asing seperti Walter Spies dan Rudolf Bonnet. Koleksi ini menjadi bukti kuat pertemuan lintas budaya yang membentuk wajah seni Bali modern.
Di Museum ARMA juga tersimpan banyak koleksi karya kontemporen dari seniman mancanegara. Foto oleh Arin
Antusiasme mahasiswa tampak jelas saat menyusuri galeri demi galeri. Banyak mahasiswa mencatat bagaimana transformasi gaya visual Bali terjadi dari periode tradisional menuju modern, tanpa kehilangan akar spiritual dan kosmologisnya. Pengamatan langsung terhadap karya-karya maestro ini memberikan pemahaman kontekstual yang sangat penting bagi mahasiswa, khususnya dalam membaca hubungan antara seni, tradisi, dan perubahan sosial.
Kunjungan ke Museum ARMA juga menyadarkan mahasiswa bahwa dunia kesenian Bali telah tumbuh dan berkembang dalam rentang waktu yang sangat panjang. Seni tidak hadir sebagai aktivitas terpisah, melainkan telah menjadi bagian dari napas kehidupan masyarakat Bali itu sendiri. Ritual, keseharian, arsitektur, hingga lanskap alam Bali menunjukkan bagaimana praktik seni menyatu dengan sistem kepercayaan dan budaya lokal.
Lebih jauh, mahasiswa memahami bahwa Bali memiliki daya tarik kuat yang membuatnya menjadi magnet bagi seniman dari berbagai belahan dunia. Sejak awal abad ke-20 hingga hari ini, Bali telah menjadi ruang pertemuan ide, gaya, dan praktik seni lintas bangsa. Ketertarikan para seniman asing terhadap Bali tidak hanya memperkaya seni lokal, tetapi juga memperkuat posisi Bali, Nusantara, dan Indonesia dalam peta sejarah seni dunia.
Ruang pamer Museum ARMA yang tertata secara artistik.
Secara akademik, kunjungan ke Museum ARMA memberikan kontribusi penting bagi pembelajaran lintas mata kuliah, seperti Tinjauan Seni Rupa, Budaya Rupa Nusantara, Sejarah Seni Rupa Modern Indonesia, dan Kajian Seni Bali. Melalui pengalaman ini, mahasiswa tidak hanya belajar mengapresiasi karya seni, tetapi juga memahami peran museum sebagai ruang pelestarian, pendidikan, dan dialog kebudayaan.
Kontributor Infokom SRM