Menghidupkan Cerita Lokal melalui Seni: Prodi Seni Rupa Murni UNESA Berdayakan Karang Taruna Desa Kisik melalui Seni Lukis
GRESIK — Program Studi S1 Seni Rupa Murni, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) sebagai bagian dari upaya menghadirkan seni rupa di tengah kehidupan masyarakat. Kali ini, kegiatan dilaksanakan di Desa Kisik, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, dengan melibatkan pemuda desa melalui kegiatan seni lukis partisipatoris di ruang publik.
Mengusung tajuk “Pemberdayaan Karang Taruna dalam Visualisasi Cerita Rakyat Lokal Melalui Seni Lukis Partisipatoris di Ruang Publik Desa Kisik – Gresik”, kegiatan PkM ini berlangsung pada 13–17 Agustus 2026, dengan rangkaian kegiatan yang kemudian ditutup pada 20 Agustus 2026. Kegiatan ini didanai oleh Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNESA dan dilaksanakan oleh tim dosen serta mahasiswa Program Studi S1 Seni Rupa Murni yang terdiri atas empat dosen dan dua mahasiswa.
Kegiatan tersebut bermitra langsung dengan Karang Taruna Desa Kisik. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dari pendekatan partisipatoris yang dikembangkan oleh tim PkM, di mana masyarakat, khususnya generasi muda desa, tidak ditempatkan semata-mata sebagai penerima program, tetapi turut menjadi bagian dari proses penciptaan karya seni.
Mengangkat Identitas dan Cerita Lokal Desa Kisik
Pemilihan Desa Kisik sebagai lokasi kegiatan tidak terlepas dari kekayaan sejarah, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakatnya. Desa Kisik memiliki sejumlah tradisi lokal yang masih dipertahankan hingga saat ini, salah satunya adalah tradisi Sedekah Bumi dan Haul Mbah Sayyid Iskandar Idris serta Mbah Sayyid Abdullah.
Dalam berbagai sumber mengenai sejarah lokal Desa Kisik, kedua tokoh tersebut dikenal sebagai figur yang memiliki posisi penting dalam sejarah terbentuknya masyarakat Desa Kisik. Salah satu kajian sejarah lokal menyebut Mbah Sayyid Iskandar Idris dan Mbah Sayyid Abdullah sebagai tokoh yang turut menyatukan sejumlah perkampungan yang kemudian berkembang menjadi wilayah Desa Kisik. Namun, sumber yang sama juga mencatat bahwa silsilah kedua tokoh tersebut belum diketahui secara pasti dan sebagian besar informasi mengenai keduanya berkembang melalui cerita lisan masyarakat.
Penyampaian materi pembuka oleh tim PkM kepada mitra.
Keberadaan makam kedua tokoh tersebut kemudian menjadi bagian penting dari kehidupan sosial-budaya masyarakat. Tradisi haul dan Sedekah Bumi yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun menjadi salah satu momentum kebersamaan masyarakat Desa Kisik. Bahkan, menurut sumber penelitian mengenai tradisi setempat, kegiatan haul dan Sedekah Bumi yang dahulu dilaksanakan secara terpisah mulai digabungkan sekitar dekade 1960-an dan terus berlangsung hingga sekarang.
Tradisi tersebut bukan hanya berkaitan dengan penghormatan terhadap tokoh yang dianggap berjasa bagi masyarakat, tetapi juga mengandung dimensi sosial dan budaya. Sedekah Bumi dipahami masyarakat sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan sekaligus menjadi bagian dari tradisi bersih desa.
Konteks inilah yang kemudian menjadi salah satu pertimbangan penting dalam kegiatan PkM Prodi Seni Rupa Murni UNESA.
Foto bersama antara Tim PkM dan mitra.
Seni Lukis sebagai Media Membangun Identitas Desa
Melalui kegiatan ini, tim PkM melihat bahwa seni rupa memiliki potensi untuk menjadi medium dalam mengenalkan sekaligus memperkuat identitas suatu wilayah. Cerita rakyat, sejarah lokal, tokoh masyarakat, serta tradisi yang hidup di tengah masyarakat tidak hanya dapat diwariskan melalui cerita lisan, tetapi juga dapat divisualisasikan dalam bentuk karya seni yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas.
Karena itu, kegiatan seni lukis partisipatoris diwujudkan dalam bentuk mural di ruang publik Desa Kisik. Mural tersebut dirancang dengan mempertimbangkan konteks lokal serta keberadaan situs makam yang menjadi salah satu ruang penting bagi kehidupan sosial dan tradisi masyarakat desa.
Karya mural tidak hanya diarahkan menjadi elemen dekoratif. Lebih jauh, mural diharapkan dapat berfungsi sebagai media visual untuk mengenalkan cerita lokal Desa Kisik, terutama kepada generasi muda dan pengunjung yang datang ke kawasan tersebut.
Dengan demikian, ruang publik tidak hanya menjadi tempat beraktivitas, tetapi juga dapat berkembang menjadi ruang edukasi dan apresiasi seni yang memperkenalkan sejarah serta identitas lokal.
Melibatkan Karang Taruna dalam Proses Kreatif
Keterlibatan Karang Taruna menjadi salah satu aspek utama dalam kegiatan ini. Para pemuda Desa Kisik diajak untuk terlibat dalam proses kreatif, mulai dari penggalian gagasan, pembahasan cerita lokal, pengembangan visual, hingga proses pengerjaan karya.
Pendekatan partisipatoris tersebut sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda desa untuk mengenal potensi seni sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Melalui pengalaman terlibat langsung dalam proses penciptaan mural, anggota Karang Taruna memperoleh pengalaman dalam mengolah gagasan lokal menjadi bahasa visual yang dapat dikomunikasikan kepada publik.
Proses pengerjaan mural di situs Makam Mbah Sayyid, Desa Kisik.
Bagi Program Studi S1 Seni Rupa Murni, proses ini juga menjadi bentuk nyata penerapan keilmuan seni rupa dalam konteks pengabdian. Seni tidak hanya diposisikan sebagai produk artistik, tetapi juga sebagai medium komunikasi, edukasi, pemberdayaan, dan penguatan identitas masyarakat.
Langkah Awal Branding Desa Kisik
Lebih jauh, kegiatan PkM ini diarahkan sebagai langkah awal dalam membangun branding dan identitas Desa Kisik. Kekayaan sejarah, tradisi, serta keberadaan situs makam yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat merupakan potensi yang dapat dikembangkan menjadi karakter visual desa.
Dalam konteks tersebut, mural diharapkan dapat menjadi salah satu penanda visual yang memperkuat karakter Desa Kisik. Visualisasi cerita lokal di ruang publik memungkinkan masyarakat maupun pengunjung untuk memperoleh gambaran mengenai nilai sejarah dan budaya yang dimiliki desa.
Pendekatan ini juga sejalan dengan karakter Gresik yang memiliki kekayaan tradisi keislaman dan budaya ziarah. Di Desa Kisik sendiri, tradisi yang berkaitan dengan Mbah Sayyid Iskandar Idris dan Mbah Sayyid Abdullah masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan dilaksanakan melalui rangkaian kegiatan tahunan. Pemberitaan mengenai pelaksanaan haul dan Sedekah Bumi Desa Kisik pada 2024 dan 2025 juga menunjukkan bahwa kegiatan tersebut terus menjadi agenda yang melibatkan masyarakat secara luas.
Oleh karena itu, pengembangan identitas visual desa melalui seni diharapkan dapat menjadi bagian dari proses yang lebih panjang dalam memperkenalkan potensi Desa Kisik kepada masyarakat yang lebih luas.
Menuju Kemitraan Berkelanjutan
Bagi Prodi S1 Seni Rupa Murni UNESA, kegiatan ini tidak dipandang sebagai program yang berhenti setelah mural selesai dikerjakan. Desa Kisik direncanakan menjadi salah satu desa binaan yang dikembangkan sebagai mitra berkelanjutan. Hal ini tentunya dalam rangka meraih SDGs 17 - Partnerships for the Goals.
Melalui kemitraan tersebut, Prodi Seni Rupa Murni dapat terus berkontribusi melalui berbagai kegiatan yang berkaitan dengan seni rupa, mulai dari pengembangan identitas visual, penciptaan karya di ruang publik, dokumentasi budaya, edukasi seni, hingga pengembangan potensi kreatif masyarakat.
Pada saat yang sama, masyarakat Desa Kisik, khususnya generasi mudanya, diharapkan dapat semakin memiliki ruang untuk mengembangkan kreativitas dan mengartikulasikan kekayaan lokal melalui bahasa seni.
Kegiatan PkM ini dibuka pada 13 Agustus 2026 dan dihadiri oleh jajaran perangkat Desa Kisik, Karang Taruna sebagai mitra kegiatan, serta pihak pengelola situs makam. Setelah melalui rangkaian proses penciptaan mural dan aktivitas partisipatif bersama masyarakat, kegiatan kemudian ditutup pada 20 Agustus 2026 dengan kembali melibatkan unsur perangkat desa, Karang Taruna, dan pengelola situs.
Kegiatan penutupan dihadiri oleh dosen, jajaran perangkat desa, pengelola situs, dan mahasiswa anggota tim PkM.
Melalui kegiatan tersebut, Prodi S1 Seni Rupa Murni UNESA menunjukkan bahwa seni rupa dapat hadir lebih dekat dengan masyarakat: menggali cerita, menghidupkan kembali ingatan lokal, membangun ruang bersama, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas sebuah desa.
Foto bersama Kepala Desa dan Dosen, serta Jajaran Perangkat Desa di depan hasil mural tim PkM dan Karang Taruna Desa Kisik.