Kuliah Praktisi Ragam Hias Seni Rupa Murni UNESA: Mengasah Kepekaan Estetis melalui Kekayaan Visual Nusantara
Surabaya — 16 & 23 September 2025.
Program Studi Seni Rupa Murni Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya kembali melaksanakan kegiatan Kuliah Praktisi sebagai bagian dari penguatan pembelajaran berbasis pengalaman langsung di studio dan ruang kelas. Pada kesempatan kali ini, kegiatan dilaksanakan pada mata kuliah Ragam Hias dengan menghadirkan praktisi sekaligus desainer interior pecinta wastra Nusantara, Anik Rakhmawati.
Kegiatan berlangsung di Studio Gambar Gedung T3 Seni Rupa FBS UNESA dan diikuti oleh mahasiswa angkatan 2024A dan 2024B. Kuliah praktisi ini dirancang untuk memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai kekayaan visual ragam hias Nusantara sekaligus mengembangkan sensitivitas estetis mereka terhadap nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Indonesia dikenal memiliki keragaman ragam hias yang sangat kaya dan tersebar di berbagai wilayah. Setiap daerah memiliki karakter visual, simbol, warna, dan filosofi yang berbeda-beda, dipengaruhi oleh sejarah, lingkungan, adat, serta tradisi masyarakat setempat. Dalam konteks pendidikan seni rupa, pemahaman terhadap ragam hias menjadi penting karena tidak hanya berkaitan dengan aspek dekoratif, tetapi juga menyangkut identitas budaya dan cara pandang masyarakat Nusantara.
Dalam sesi pembelajaran, mahasiswa diperkenalkan pada berbagai ragam hias dari beberapa wilayah Indonesia, khususnya Jawa Barat dan DKI Jakarta, serta ragam hias dari Sumatra dan Sulawesi. Materi yang diberikan mencakup pengenalan bentuk visual, pola ornamentik, filosofi simbolik, hingga penerapannya dalam karya desain dan seni rupa kontemporer.
Praktisi menyampaikan materi tentang ragam hias Nusantara.
Melalui pendekatan yang komunikatif dan visual, mahasiswa diajak memahami bagaimana ragam hias berkembang sebagai bagian dari ekspresi budaya masyarakat. Berbagai contoh visual ditampilkan untuk membantu mahasiswa membaca karakter khas setiap daerah, mulai dari pola geometris, stilisasi flora dan fauna, hingga penggunaan warna dan komposisi visual yang memiliki makna tertentu.
Suasana kelas berlangsung aktif dan interaktif. Mahasiswa terlihat antusias saat mempresentasikan hasil eksplorasi visual mereka, berdiskusi mengenai motif-motif daerah, hingga mencoba mengembangkan interpretasi visual dari ragam hias Nusantara ke dalam karya yang lebih personal dan kreatif. Beberapa karya mahasiswa juga menunjukkan keberanian dalam mengolah unsur tradisional menjadi visual yang lebih kontemporer tanpa kehilangan identitas budaya asalnya.
Dalam kegiatan ini, Anik Rakhmawati juga menekankan pentingnya memahami ragam hias bukan hanya sebagai ornamen, tetapi sebagai warisan visual yang menyimpan nilai sejarah, filosofi, dan identitas masyarakat Indonesia. Mahasiswa diajak untuk lebih peka terhadap kekayaan budaya lokal sekaligus menyadari bahwa tradisi visual Nusantara dapat menjadi sumber inspirasi yang sangat luas dalam praktik seni dan desain masa kini.
Praktisi memberikan feedback pada karya mahasiswa.
Kuliah praktisi ini menjadi langkah penting dalam mempertemukan pengalaman profesional praktisi dengan proses pembelajaran akademik di kampus. Kehadiran praktisi eksternal memberikan perspektif baru kepada mahasiswa mengenai bagaimana unsur budaya lokal dapat dikembangkan dalam dunia kreatif dan industri desain secara lebih relevan dan kontekstual.
Selain memperkuat wawasan budaya dan artistik mahasiswa, kegiatan ini juga mendukung capaian pembelajaran Program Studi Seni Rupa Murni dalam membentuk lulusan yang memiliki kepekaan estetis, kemampuan observasi visual, serta pemahaman terhadap akar budaya Nusantara sebagai bagian dari identitas keilmuan seni rupa.
Kegiatan ini juga memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas) melalui upaya menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, inklusif, dan berbasis budaya lokal. Melalui penguatan materi ragam hias Nusantara, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman artistik, tetapi juga diajak membangun kesadaran budaya dan kemampuan kreatif yang relevan dengan perkembangan dunia seni dan desain di masa depan.
Kegiatan ditutup dengan foto bersama praktisi dengan mahasiswa.
Secara keseluruhan, kegiatan Kuliah Praktisi Ragam Hias menjadi ruang belajar yang memperlihatkan bagaimana kekayaan visual Nusantara dapat terus hidup dan berkembang melalui pendidikan seni rupa. Pengalaman ini diharapkan mampu memperkuat apresiasi mahasiswa terhadap budaya Indonesia sekaligus membuka kemungkinan eksplorasi visual yang lebih luas dalam praktik berkarya mereka di masa mendatang.